Langsung ke konten utama

Belajar dari Musibah

Bismillah. 

Saudaraku yang dirahmati Allah. Musibah adalah salah satu bagian dari takdir Allah. Bagi orang beriman musibah merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana nikmat merupakan sarana untuk bersyukur kepada-Nya.

Di dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa salah satu karakter orang beriman adalah bersabar saat terkena musibah. Di samping itu orang beriman bersyukur kepada Allah saat diberi nikmat.

Saking pentingnya sabar, Ali bin Abi Thalib berkata, "Sabar dalam iman laksana kepala bagi badan. Apabila kepala terputus maka badan tidak bisa lagi bertahan."

Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan sabar. Diantaranya di dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang maka Allah berikan cobaan/musibah kepadanya."

Salah satu buah dari musibah adalah bisa mewujudkan kesabaran yang pahalanya tidak terbatas. Selain itu musibah akan menjadi sebab terhapusnya dosa. Bahkan Apabila seorang ridha dengan takdir Allah berupa musibah itu maka Allah akan memberikan tambahan hidayah ke dalam hatinya. 

Dunia penuhi dengan cobaan. Ada kalanya orang bisa sabar ketika menghadapi musibah tetapi seringkali orang tidak bisa 'sabar' saat diberi cobaan berupa nikmat sehat, harta dan kelapangan... 

Yang jelas, Allah Mahabijaksana. Allah sama sekali tidak menzalimi manusia... Allah Yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baru Belajar

 Bismillah. Tidaklah diragukan bahwa belajar agama penting bagi setiap muslim. Karena dengan memahami agama seorang akan mengerti jalan kebenaran untuk diikuti dan mengenali jalan kebatilan untuk dijauhi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah akan pahamkan dia dalam agama." (HR. Bukhari dan Muslim) Untuk itu belajar agama adalah kewajiban sekaligus kebutuhan. Siapa sih yang ingin hidup celaka atau masuk neraka? Tentu orang yang berakal ingin meraih hidup bahagia. Akan tetapi banyak orang yang tidak menempuh jalan yang benar untuk meraihnya. Kebanyakan orang terjebak oleh hawa nafsu dan perasaan atau logika dangkal mereka. Mereka sibuk memikirkan kesenangan dunia yang bersifat materi atau fisik tetapi melupakan kebahagiaan iman dan kesejukan takwa. Inilah yang digambarkan oleh Malik bin Dinar rahimahullah, "Orang-orang itu pergi meninggalkan dunia dalam keadaan belum menikmati sesuatu yang terbaik di d...