Langsung ke konten utama

Merajut Harapan

 Bismillah.

Saudaraku yang dirahmati Allah, ibadah kepada Allah tegak di atas ketundukan dan pengagungan kepada-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ibadah merupakan perpaduan antara puncak perendahan diri dengan puncak kecintaan.

Para ulama pun menegaskan bahwa ibadah berporos pada 3 amalan hati; cinta, takut, dan harapan. Diantara ketiga perkara ini maka cinta menempati peran utama dalam menggerakkan amal salih dan ketaatan.

Seperti diungkapkan bahwa orang yang tulus mencintai niscaya patuh kepada siapa yang dia cintai. Begitu pula kecintaan kepada Allah dibuktikan dengan kepatuhan kepada ajaran Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Sebagian ulama terdahulu mengatakan, "Risalah/wahyu datang dari Allah, kewajiban rasul menyampaikan, dan kewajiban kita adalah pasrah/tunduk."

Karena itulah para ulama menafsirkan ibadah dengan ketaatan selain mereka juga menafsirkannya dengan tauhid. Ibadah tidak menjadi benar tanpa tauhid, sebagaimana sholat tidak sah tanpa thaharah. Ibadah juga tidak terwujud tanpa ketaatan. Karena hakikat ibadah mencakup pelaksanaan perintah dan menjauhi larangan. 

Perintah terbesar adalah tauhid -yang ini menjadi pondasi dan syarat untuk diterimanya seluruh amalan- dan larangan terbesar adalah syirik. Allah berfirman (yang artinya), "Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya itu dengan sesuatu apapun." (al-Kahfi : 110)

Wallahul muwaffiq.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Baru Belajar

 Bismillah. Tidaklah diragukan bahwa belajar agama penting bagi setiap muslim. Karena dengan memahami agama seorang akan mengerti jalan kebenaran untuk diikuti dan mengenali jalan kebatilan untuk dijauhi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah akan pahamkan dia dalam agama." (HR. Bukhari dan Muslim) Untuk itu belajar agama adalah kewajiban sekaligus kebutuhan. Siapa sih yang ingin hidup celaka atau masuk neraka? Tentu orang yang berakal ingin meraih hidup bahagia. Akan tetapi banyak orang yang tidak menempuh jalan yang benar untuk meraihnya. Kebanyakan orang terjebak oleh hawa nafsu dan perasaan atau logika dangkal mereka. Mereka sibuk memikirkan kesenangan dunia yang bersifat materi atau fisik tetapi melupakan kebahagiaan iman dan kesejukan takwa. Inilah yang digambarkan oleh Malik bin Dinar rahimahullah, "Orang-orang itu pergi meninggalkan dunia dalam keadaan belum menikmati sesuatu yang terbaik di d...